DERITA NENEK SITI YANG DIGUGAT ANAK BESERTA MENANTUNYA RP. 1,8 MILIAR


ONEPOIN.CO.ID - Di usia senjanya, beban hidup Siti Rokayah, warga yang berasal dari kecamatan Garut Kota masih berat. Nenek usia 83 tahun tersebut harus berhadapan dengan hukum, lantaran kasus utang piutang yang menjeratnya. Yang lebih menyayat hati, Nenek Siti digugat sendiri olah anak dan menantunya, Yani Suryani bersama Handoyo Adianto warga Jakarta Timur. Nilai gugatannya juga terbilang besar, Rp 1,8 miliar.

"Saya sendiri heran dengan anak dan menantunya yang melayangkan gugatan senilai Rp 1,8 miliar," kata Ketua Bidang Advokasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut Nitta Kusnia Widjaja kepada wartawan di Garut, Jumat (24/3). Dikutip dari Antara.
Siti Rokayah

Belum lagi kondisi kesehatan Nenek Siti yang terus menurun. Dia yang kini dirawat di rumah salah satu anaknya, Leni Nurlaeni tidak bisa lagi bebas untuk beraktivitas seperti tahun-tahun sebelumnya.

Informasi yang dihimpun, pangkal kasus hukum yang membuat Nenek Siti harus berhadapan dengan anak kesembilannya tersebut terjadi di tahun 2001. Saat itu Handoyo menjanjikan bantuan bakal melunasi kredit macet Asep Ruhendi, anak kedua Nenek Siti di bank sekira Rp 40 jutaan.

Namun yang bersangkutan hanya mentransfer sebesar Rp 21,5 juta sementara sisanya yang dijanjikan akan diberikan secara tunai tidak kunjung dipenuhi. Persoalan sempat reda, hingga akhirnya berlanjut di tahun 2016.

Di tahun tersebut Yani mendatangi sang ibu dan mendesak untuk menandatangani surat pengakuan berutang. Karena iba dan tak ingin rumah tangga anaknya hancur, Nenek Siti bersedia untuk membubuhkan tanda tangan.

Namun belakangan diketahui jika di surat tersebut juga tercantum persoalan utang piutang mengenai emas yang mengatasnamakan Nenek Siti. Padahal Nenek Siti tidak pernah berutang emas seperti yang tertulis dalam surat tersebut.

Dari persoalan inilah Yani melayangkan gugatan kepada Nenek Siti Rp 1,8 miliar. Saat ini kasusnya telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Garut sudah memasuki persidangan keenam.

P2TP2A Kabupaten Garut menyatakan untuk kasus anak menggugat ibunya merupakan kategori kekerasan terhadap lanjut usia (lansia).

"Menurut kami gugatan yang dilakukan anak kandung dan menantu terhadap ibunya itu merupakan bentuk kekerasan terhadap lansia," kata Nitta.

Ibu yang menjadi tergugat itu, kata Nitta merupakan persoalan yang perlu dilakukan pendampingan secara hukum selama persidangan. "Atas kasus itulah kami P2TP2A Garut akan mendampingi Ibu Siti Rokayah selaku tergugat," katanya.

Ia juga menjelaskan, pendampingan hukum terhadap lansia itu berdasarkan aturan dalam Undang-undang Perlindungan Lansia Nomor 43 Tahun 2004 Pasal 60.

Menurut dia, persoalan utang piutang keluarga itu seharusnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan, tidak seharusnya dilanjutkan ke meja persidangan.

Adanya gugatan uang sebesar itu memunculkan anggapan penggugat ingin menguasai harta yang dimiliki oleh ibunya.

Kasus itu, lanjut dia, menjadi pembelajaran bagi kehidupan manusia lainnya dalam memaknai kehadiran ibu. "Kasus ini ada pesan moralnya buat kita semua, hargailah ibu yang telah melahirkan kita," pungkasnya.


Sumber : www.merdeka.com

Demikian informasi yang dapat kami bagikan kepada rekan-rekan pembaca setia info Onepoin. Semoga informasi ini bermanfaat, dan terima kasih atas kunjungan anda.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DERITA NENEK SITI YANG DIGUGAT ANAK BESERTA MENANTUNYA RP. 1,8 MILIAR"

Post a Comment